Feb
13
2009
Anak Kos Punya Cerita - part 2

Ok, jadi ceritanya si Laura dah niat buat nyari kos. Tapi sebelumnya, yah musti nyari tempat kuliahnya dulu to. Pertama, Laura nyoba daftar di sebuah Perguruan Tinggi Swasta yang terkenal dengan jurusan Farmasi dan Sastra Inggrisnya. Sejak dari Kampoeng Halaman, Laura dah niat buat masuk jurusan Farmasi. Kenapa hayo?

Karena eh karena, Laura ngerasa kalo setelah kakaknya masuk jurusan Kedokteran, mamanya ga akan bangga sama dia kalo dia hanya masuk fakultas yang biasa-biasa aja kayak Ekonomi ato Hukum gitu. (*Maap yak, ga ada maksud meng-under estimate jurusan yang dimaksud. Tapi yah begini ini yang ada di pikiran Laura waktu itu.).

Ya suwda deh, maka Laura dengan mantap dan pedenya, hanya mengisi pilihan pertama untuk Jurusan Farmasi. Pilihan kedua dan ketiganya ga dipeduliin. Ok. Administrasi pendaftaran beres. Sekarang waktunya mempersiapkan diri. Malam sebelum test masuk, Laura melakukan persiapan terakhir. Mandi kembang 7 rupa mulai dari bunga bakung di padang yang diberi keindahan, sampe bunga kembang sepatu lengkap dengan kaki-kakinya. Siip. Ga sabar nunggu besok.

Jeng, jeng, jeng.

Dengan diantar Om-nya, Laura melangkah memasuki halaman kampus dengan gagah berani. (*Ya iyalah, wong diantar. Coba sendiri, ciut juga..). Setelah mengucapkan salam perpisahan dan memberi doa agar berhasil, si Om meninggalkan Laura karena harus balik ke kantor. Jadilah dia melangkah menyusuri jalan setapak seorang diri. Dia berjalan terus melewati beberapa ruang kelas hingga sampai pada sebuah ruang kecil tempat dia berganti pakaian dengan seragam kaku berkerah biru. Dari situ dia pergi ke ruangan di sebelahnya untuk mengambil beberapa gelas yang telah diisi air teh hangat untuk diantar ke ruang rektorat. (*Oyaaaa??!! Ya ga dong!! Ekekeke).

Jadi, (*Ni yang bener.) dengan puluhan calon mahasiswa lainnya, Laura memasuki ruangan tempat dia melakukan test masuk Perguruan Tinggi ini. Setelah mendapatkan kursi yang sesuai dengan nomor urutnya, Laura segera mendaratkan pantatnya dengan sukses. Saat tanda untuk memulai test dinyatakan, dia segera membalik kertas soal yang sebelumnya telah dibagikan. Kemudian, gubraaggg. Tidaaaaakkk. “Waduw, piye ki? Aku ga ngerti soal beginian.” Hiks. Lha gimana, wong yang dipelajari Kimia murni, Fisika murni, Biologi, Matematika, dan teman-temannya, tapi yang dikasih soal Psikotest. Huaaaa… “Aku sama sekali ga tau kalo soalnya psikotest. Kok bisa ya kemaren ga pake nanya-nanya dulu. Duh, dasar.. Huuh. Kentara banget culunnya.”

Yah, berhubung ga ada persiapan, dan ga pernah ngelakuin sebelumnya, Laura mengerjakan semua soalnya dengan tuntunan Roh Kudus.

Selesai dari situ, dia kembali ke rumah Tantenya dan melanjutkan hidup seperti biasa. Makan, minum, tidur, makan lagi, dan tentu saja tidak lupa bernapas setiap saat setiap waktu. Berhubung ada feeling-feeling ga enak gimana gitu, dan dengan bantuan Tantenya, Laura mencoba mendaftar lewat UMPTN. Kali ini yang dipilih Fakultas Kedokteran di UGM sama Fakultas Farmasi Airlangga. Gitu-gitu, soal kemampuan otak, yah bole diadu lah. Tapi kalo mo diibaratkan tuh gini. Kakaknya yang Sulung itu pinternya full. Jadi, Laura yang anak kedua, dapet sisanya. Kan lumayan tuh. Nah, yang kasian adeknya. Karena paling terakhir, ya dapet ampas deh. Ekekeke.. Ga heran kalo matematikanya kemaren ‘Uncomplete’.

Lanjut. Hmm..Ntar, sampe mana yah?

Oya, singkat cerita, ternyata waktu pengumuman hasil uji masuk di Perguruan Tinggi Swasta dan hasil kelulusan UMPTN itu bersamaan. Setelah memastikan bahwa ternyata dia ga lulus masuk PTN manapun - Yah, meskipun itu sih karena dia emang ga melakukan persiapan sama sekali (*Ngeles dot com). -  Laura harus bener-bener berlapang dada saat menerima kabar dari tantenya yang disampaikan dengan lantang senyaring nyaringnya (sampe semua tetangga mendengar dan segera mengucapkan turut berduka cita) -  karena waktu itu posisinya Laura di pintu masuk rumah karena baru pulang berpergian - bahwa dia juga ga lulus tes masuk PTS itu.

Mendengar hal itu, Laura segera berlari keluar rumah untuk mencari pohon terdekat yang bisa dipanjati, sambil diikuti seorang ibu yang terus berteriak memanggil-manggil namanya. “Ah, ga peduli. Lagian ngapain sih tu Ibu ngikutin aku?” Semakin cepat dia berlari, si Ibu juga semakin menyusuli dia. Lama-lama teriakan si Ibu makin jelas di telinga Laura. “Nduk, berhenti ndisik! Biar anakku tak suapin dulu. Ntar buburnya keburu dingin.” Wealah, saking kalutnya, Laura ga sadar kalo dia lari-larian sambil menggendong anak tetangga. Pantas, dia dikejar. Padahal dah pede banget tuh kalo si Ibu nyusulin dia buat nenangin. Ekeke..

Kecewa? Iya. Wajar lah. But, life goes on, rite?

Berasa nyerah bin pasrah, dan setelah dibujuk Tantenya, sekali lagi dia nyoba untuk mendaftar ke sebuah Perguruan Tinggi Swasta lainnya. PTS yang ini belum pernah dia dengar sebelumnya. Tapi, setelah mendengar referensi yang baik dari Om dan kenalan yang laen tentang PTS ini, akhirnya dia sedikit berkeyakinan untuk masuk ke universitas itu.

Pertama kali datang ke kampusnya, yang ada di benaknya adalah sangsi kalo ini tempat beneran tempat yang akan dia pilih untuk menghabiskan sebagian besar waktunya untuk sekitar 4 tahun ke depan. Lha kampus kok seiprit gitu. Gedung utama berlantai 3 yang cuma secuil itu dipake untuk kantor rektorat, biro admin, biro keuangan, biro kemahasiswaan, lab.komputer, sama ruang kelas untuk 3 fakultas. Bayangin coba. Belum lagi setelah tau kalo ni universitas cuma punya 4 fakultas :  fak.Theologi, fak.Teknik yang tdd Teknik Informatika dan Teknik Arsitektur, fak.Ekonomi, sama fak.Biologi. Weleh..weleh..

Oiya, nama PTSnya untuk selanjutnya dikasih inisial UKDW. (*duduls kumat mode on) (^^.)”

Tags : Cerita

Back To Top
Comments (View)
blog comments powered by Disqus
It's me

Penganut gaya hidup Minimalis Kritis, suka fitness, dan tidak gendut.. hihihi. Yup, that's me...
Ngobrol Disini
Thanx for Ur coming. Hope U enjoy Ur visit here. God bless (^^,)"

What's On here