Posted 8 months ago
Comments
Yahoo!!! Hmm, mulai dari mana ya? Ya ya ya.. Jadi begini lanjutannya…
“Kulo nuwun! Ada orangnya ga? Kalo ga ada, pintunya buat saya loh.” “Ada mbaaak.. Sebentar.” Tampak seekor, eh salah ding, sebongkah maksudnya. Ya, sebongkah nenek-nenek keluar dengan menyeringai sambil membawa seekor tikus mati. “Sebentar ya mbak ya.”, kata si nenek sambil menuju pojokan halaman. Di situ dia mencoba berjongkok tapi kemudian berdiri lagi. Mencoba lagi, eh langsung berdiri lagi. Oh, ternyata keganjal perut sendiri. Ekekeke.. Karena niat mulia untuk menguburkan si tikus gagal, maka si nenek langsung memasukkan si tikus malang ke dalam mulut. Toh ntar bakalan terkubur juga sekitar 2 jam kemudian. (*L untuk Lebay ^^)
Setelah itu, si nenek datang mendekati Laura dan bertanya, “Ada apa ya mbak?”. “Ehm, mau nanya mbah, eh bu, di sini masih ada kamar kosong?” “Oh, masih mbak, masih. Kebetulan kemaren banyak yang pada lulus jadi ya pada keluar semua. Tuh kamar yang di atas kebetulan masih ada dua yang kosong. Apa mau dilihat dulu kamarnya?” “Oh, boleh.” “Sebentar ya, saya panggilin mbaknya biar ditemenin ke atas.” “Nok!! Nok!! Sini bentar, tolong ni mbaknya ditemenin ke atas buat ngeliat kamar yang masih kosong.” Kemudian datang sebuah mbak-mbak yang kemudian mempersilakan Laura untuk mengikuti dia ke lantai atas.
Hmm, dilihat-lihat boleh juga ni rumah. Dari ruang tamu yang langsung berhubungan dengan ruang keluarga, mereka lantas memasuki ruang makan. Dari situ mereka menuju sebuah pintu yang langsung berhubungan dengan tempat parkir motor. Di dekat tempat parkir motor terdapat 8 kamar kos. Tapi mereka tidak menuju ke sana. Dari pintu mereka menuju ke arah tangga. Ternyata di lantai atas kamar-kamarnya dibagi menjadi 2 bagian. Bagian belakang dan depan. Karena kamar yang dituju terletak di bagian depan, maka dari puncak anak tangga, mereka langsung menuju ke arah kanan.
Keadaan di bagian depan menurut Laura lebih lumayan, karena di situ terdapat pintu menuju balkon sehingga cahaya matahari dan udara lebih bebas keluar masuk sehingga suasanannya juga terasa lebih sehat. Di situ juga terdapat ruang nonton tv yang juga ada kulkasnya. Ternyata setiap blok juga mendapat fasilitas yang sama. Selain itu di setiap lantai juga disediakan dapur lengkap dengan semua alat yang dibutuhkan. Di setiap kamar juga sudah disediakan tempat tidur, meja belajar, dan lemari pakaian. Ternyata kedua kamar yang diperlihatkan sama baiknya. Tapi Laura memilih kamar yang langsung berhadapan dengan pintu menuju ke balkon. Jendela dalam kamar ini menghadap ke kamar belakang.
Setelah puas melihat-lihat, mereka kemudian turun kembali menemui si nenek pemilik rumah. “Gimana mbak? Jadi diambil?” “Oh iya bu, saya ngambil yang no.20 aja.” “Oh ya sudah kalo gitu mbak.” Kemudian setelah membayar DP tanda setuju dan menerima kunci kamar, Laura pun pamit pulang. “Ya udah bu, saya pulang dulu. Mau siap-siap buat pindahan.” “Oh iya mbak. Terima kasih ya.” “Ehm, bu.” “Iya mbak, kenapa?” “Itu bu..” “Kenapa mbak?” “Emm, ada yang nyelip.” “Dimana mbak?” “Ya di situ, di giginya ibu.” “Oh, tolongin dong mbak, saya ga bisa ngeliat.” “Yee, enak aja..” “Hehe, saya cuma becanda kok mbak, tapi yah kalo mbaknya mau beneran ya ga pa pa..” “Ih, najis. Ya udah, saya pamit ya bu. Tapi itu beneran loh ada yang nyelip.” “Ah ga pa pa mbak, saya sengaja kok, buat ntar malam. Biar ga usah beli lauk lagi.”
(*Hmm.. lanjut ga ya?? Huah.. cape..)
:
Cerita